Bismillah
Wo, G bru mikir mo bli Notebook or maby a “netbook” soalnya slama ini pk yg punya kantor. Well please give an advice apa aj yg mesti jd prtimbangan slain price. Klu slama ni g brpikir a good device tu musti Brprocessor besar, d atas 2.0 Ghz, n punya Memory minimal 2GB. One more Does Dual Core always do more than Single Core Processor ? Which one is better : AMD Athlon or Intel ? Till today I’ll prefer Intel because of the name. Tq.
–R di kota nun jauh
Bung R yang baik
Saya bukan expert yang bisa kasih saran bagus, jadi ini cuma berdasar pengalaman saja ya.. Jadi kalau ada saran or kritik silakan dilayangkan di kolom komentar. Kalau kita lihat di forum-forum tetangga, banyak ditemui dilema semacam ini saat nyepek (membuat spesifikasi sebelum beli komputer/laptop). AMD or Intel? DDR2 or DDR3? Graphic card onboard atau nVidia/ATI? Dan pertanyaan sejenis.. Saya rangkum semuanya di sini saja.
0. Budget
Kalau tidak terlalu bermasalah dengan ini, silakan lanjut ke poin berikutnya. Kalau anggaran kita terbatas, pilihan bisa dikerucutkan menjadi benar-benar sempit. Percayalah, kalau anggaran cuma 6juta, kita akan pulang dengan membawa barang seharga 6,5 juta, atau bahkan 7 juta. Karena biasanya di toko/pameran ketemu barang yang agak lebih bagus sedikit dengan harga yang (menurut kita) tidak terlalu jauh selisihnya. “Ah, sayang nih, cuma beda 500rebu doang, kapasitas HDnya dua kali lipet…”, atau “kalau pilih yang ini, dapet Windows Vista Asli sama payung cantik boo.. Selisih tapi cetiao(sejuta) nih.. “, dsb, dsb.
1. After sales
Kalau memang budget mencukupi untuk beli yang agak highend, saya sarankan untuk memperhatikan betul garansi, service, dan apakah ada master dealer merek laptop tersebut di kota kita. Karena kalau tidak, sedikit ada masalah bisa2 laptop kita “jalan-jalan” dulu ke Jakarta, Surabaya, dsb. Alasannya sih klasik, spare part sama teknisi ada di kota besar. Jangan terpesona dengan kata2 iklan yang memberi garansi bertahun-tahun. Yang digaransi apanya? Banyak loh merek abal2 yang gembar-gembor di iklan, nyatanya (karena mungkin rakitan lokal or hasil refurbished) ancur2an. Saya gak mau sebut merek, bisa2 dipenjara karena pencemaran nama baik.
2. Sesuaikan dengan kebutuhan
Suze Orman menyarankan untuk bertanya pada diri kita sendiri dua hal penting sebelum membeli barang: Is it good? Is it right? Kalau tidak, jangan beli dulu. Sabar, tunggu. Dollar mungkin sedang gila-gilaan. Mungkin musim barang lagi langka karena “tersangkut” di pelabuhan sama bea cukai (dan itu bikin harga jadi mahal). Mungkin pasar lagi “hot-hot”-nya. Kalau Anda tak butuh cepat, kenapa mesti terburu-buru?
Itu soal waktu beli. Sekarang soal “dipakenya laptop buat apa aja”. Misal kita cuma senang main solitaire dan mengetik laporan, kenapa harus punya laptop seharga 25juta? (Buat yang tersindir, saya mohon maaf) Kalau kita kuat menenteng 2 kilo, kenapa harus beli yang mini dengan keyboard kecil2? Seekstrim apa sih pekerjaan kita sehingga kita beli laptop yang anti air, anti gores, anti banting? Sesering apa sih kita berjauhan dari listrik sehingga kita beli laptop dengan batreinya tahan 20 jam (setiap cafe yang ada hospotnya masak gak nyediain colokan listrik)?
Sesuaikan kebutuhan dengan spesifikasi berikut
a. Processor
Sepertinya sudah jadi rahasia umum, nama besar tak menjamin performa. AMD tak selalu lebih buruk dari Intel. Celeron nggak jelek2 amat kalau cuma buat make aplikasi office. Intel Atom, ya sesuai namanya, biasanya dipakai untuk laptop 10″, memang seperti itulah kemampuannya (buat mengurangi heat dan irit batrei mungkin).
Ngomong2 soal produk Intel aja nih ya..
Intel mengeluarkan Celeron, Pentium, sama Core. Jadi, kalau kita lihat2, nama processornya mereka diawali dengan Intel lalu Celeron/Pentium/Core. Masing2 seri ini punya karakteristik masing2 (daripada ditulis ulang di sini, silakan lihat di situs resmi Intel atau Wikipedia), tapi secara umum bila dilihat dari segi fitur, performa, dan harga, urutannya mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi : Celeron, Pentium Dual Core, lalu yang paling baru Core dan Core 2. Belakangan, setelah merilis Pentium Dual Core, Intel mengubahnya lagi menjadi Pentium saja. Biasanya kita lihat dalam wujud spesifikasi di laptop “Intel Pentium SU(angka)”, buat yang masih pake Pentium Dual Core Txxxx itu mungkin versi jadul dari Pentium Dual Core. Khusus untuk Core 2 Duo, mereka sudah 2 MB cachenya. Clock tinggi gak jamin juga performa bagus, selain itu ada FSB (biasanya sudah 800MHz) dan cache. Core 2 Duo maksudnya dia punya 2 pararel processors yang saling membagi load (kerasa kalau dibandingkan dengan prosesor lain dengan clock sama saat kita memakai aplikasi yang multithreading seperti video editing atau photoshop).
b. Ukuran layar
Tinggal pake feeling ajah kok, kalau sering coding yang perlu widescreen, ambil yang wide. Tapi kalau kuat memandang font kecil2, dan ke-mini-an, ambil yang 10″. Enough said.
c. RAM
DDR3 masih mahal, dan improvementnya tak terlalu terasa kalau dibandingkan dengan DDR2 dengan kapasitas yang sama.
d. Harddisk
Kalau beli dengan kapasitas kecil pun tak apa, nanti seiring dengan bertambahnya kebutuhan bisa pakai harddisk external (ingat, harga media simpan seperti HD, flashdisk, makin lama makin murah!)
e. Graphic card
Intel GMA pun sebenarnya sudah cukup kalau kita tak pernah pakai aplikasi yang perlu graphic bagus. Anda mau video editing atau bikin animasi dari laptop? Kenapa tidak beli PC Desktop yang high end?
f. Sistem operasi
Jangan mengejar laptop dengan bundle bonus sistem operasi asli, beli terpisah pun tak apa.
g. Wi card, usb slot
Alasan orang pakai laptop selain mobilitas, juga perkara internet. Jadi ini spek yang wajib ada. USB slot berguna buat peralatan tambahan kalau2 memang fitur laptop dirasa kurang, seperti webcam (ada yang 300rebu), card reader (paling 60rebu), bluetooth (80rebu), media simpan external, dan lain2.
3. Alasan lain2 yang remeh temeh
Mungkin terdengar sepele, tapi demi mengerucutkan pilihan, ada orang yang memperhatikan hal2 kecil. Contoh, ada yang tak suka bila tombol Control sebelah kiri tidak tepat berada di pojok, atau bila desainnya agak “gendut”, atau kipas processornya berada di sebelah kanan (karena bikin tangan panas, buat yang non-kidal), atau hal2 semacam itu.
Terakhir, kata temen kos saya, “Puaslah dengan apa yang kita beli, karena itulah cara menikmati barang hasil beli sendiri”. Selamat membeli laptop, semoga berhasil..
cingcong-cingcong