Profesi Yang ‘Mengada-ada’

Waktu saya tinggal 4 jam sebelum tulisan untuk rubrik ini saya kirim ke editor via email. Namun sampai saat ini saya hanya berkutat di alinea yang sama. Buntu. Tiba-tiba saya teringat salah seorang teman yang menulis di Facebooknya tentang pelayanan salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, yang juga menyediakan layanan internet. Kita sebut saja PT Mehong bin kacrut.

Teman saya itu mengeluh karena ia tak kunjung bisa berselancar di dunia akhirat, eh maksud saya di dunia maya alias internet. Walau saya tahu ia juga bukan pribadi produktif bila berhadapan dengan internet. Namun ada yang menarik dari ceritanya. Awalnya ia dijanjikan teknisi yang akan datang langsung ke rumahnya. Setelah datang, seperti layaknya teknisi kawakan, ia mulai mengeluarkan alat-alat yang sudah biasa jadi mainan teman saya itu. Namun teman saya pikir, adalah tidak perlu lah jadi sok keren di depan pelanggan. Jadilah pada akhirnya sang teknisi sok keren tersebut berujar agar teman saya menunggu 2 hari karena ‘pusat’ belum mengaktifkan akun internet teman saya. Memahami kalau urusan bisa jadi panjang, teman saya hanya meminta nomor pelanggan serta password dari teknisi tersebut.

Apa yang jadi jawaban sang teknisi sungguh membuat heran. Katanya bila bukan ia yang mengerjakan ia tak akan dapat uang setting, serta bila salah prosedur kemungkinan garansi untuk modem yang disediakan PT Mehong tidak berlaku lagi. Teman saya sungguh keheranan campur kesal, menilai bahwa teknisi semacam ini hanya profesi yang tak perlu, karena sebenarnya yang dilakukan si teknisi dapat diberitahu saat registrasi, dan bila ada masalah customer dapat menghubungi CS via telepon. Saya yang mendengar ceritanya pun menjadi sedikit kasihan dengan Om Teknisi, sekaligus khawatir. Apakah saya juga dinilai pembaca Kompas sebagai penulis yang tidak penting? Yang hanya mengisi sekadar 3 kolom paling bawah dari sebuah surat kabar dan diterbitkan seminggu sekali?

…………………
Kilas Parodi
0. Jangan pernah menjadi sok keren. Sesuaikan apa yang Anda kerjakan dengan apa yang Anda tampilkan di depan pelanggan jasa Anda. Karena boleh jadi kesokkerenan Anda dapat dimentahkan oleh pelanggan Anda yang ternyata keren beneran.
1. Jangan resek dengan kesokkerenan orang lain. Boleh jadi itulah satu-satunya yang bisa ia banggakan dalam hidup. Hargai kesombongannya. Mengangguklah seakan-akan Anda percaya kalau ia keren beneran.
2. Bila Anda punya perusahaan besar, minimalisir bidang pekerjaan yang tidak perlu. Hal ini membuat Anda tidak mengeluarkan uang ekstra untuk pekerjaan yang sebenarnya bisa didelegasikan pada pekerja yang sudah ada.
3. Bedakan pegawai tetap asli perusahaan dengan yang kontrak. Bukan apa2, adalah lucu bila image perusahaan yang sudah dibangun susah2 ternyata ternoda oleh pegawai kontrak yang mengandalkan kesokkerenan dan ternyata tidak keren beneran.
‘Eh, elu kan bisa nampang di mari karena sok keren juga booo..’ celetuk teman saya, sinis.

-Prabowo Mulia, penulis mode dan gaya hidup

0 Responses to “Profesi Yang ‘Mengada-ada’”


  • No Comments

Leave a Reply