Kalaupun aku harus mengubah cita-cita, membelokkan peredaran benda angkasa, menggeser lembah, menguras dua samudera, ataukah membunuh nenek tiriku sendiri, akan aku lakukan demi mendapat cintamu.
Bila berputar-putar di permainan hati membuatmu senang, beralih dari satu pria ke pria lain mejadikanmu puas, dan melampiaskan kekesalan kepada banyak lelaki membuatmu bangga, aku rela. Asal engkau jadikan aku perhentianmu terakhir.
Kalau saja malam ini ada jutaan bintang yang jatuh di langit cerah, akan aku pandang satu bintang saja. Ya, satu bintang saja. Ku tak acuhkan sisanya, demi mengucap satu pinta saja. Ya, satu pinta saja. Aku ingin habiskan waktu bersamamu, berjalan susuri pantai, sambil menghirup aroma basah sehabis hujan, dan mencoba menerka ada apa di ujung pelangi sana.
Aku tahu hatimu bagai pohon tinggi lagi besar, yang kucoba tebang dengan pisau dapur. Aku tahu engkau tak dapat tumbang, tapi aku yakin telah kutoreh sesuatu di sana. Sesuatu yang membuatmu sedikit membuka celah hati, yang saat ini belum tembus cahaya.
Andai lewat tengah malam ini Tuhan Menakdirkanku menderita amnesia, aku yakin, besok pagi aku bangun dan tetap jatuh cinta pada wanita yang sama: kamu.
Jika kau tanya mengapa aku bisa sampai separuh gila begini, kan ku jawab dengan balas bertanya, “Setiap memandangmu aku berdebar, berbicara denganmu buat lidahku kelu, dan ada perasaan tak biasa bila namamu kudengar. Hai Nona yang pandai meracik kue pastel, apa cinta itu memang perlu alasan?”
Kata orang, aku seperti nakhoda kapal pengangkut mutiara: diliputi berjuta keindahan nan memabukkan sepanjang waktu. Namun, mereka tak tahu. Aku lebih kagumi engkau: cahaya bulan purnama yang bimbing aku menuju daratan, walau aku tahu engkau jauh tak terjangkau.
Menanti membuatku sakit, memang. Menunggu juga menyiksaku, pasti. Tapi, saat kubayangkan senyuman yang kurindu, mendadak lukaku sirna, awan mendung menghilang, matahari terbit, dan hatiku berbunga, layaknya hati saudagar yang baru saja untung besar. Wahai Putri Sulung orang terpandang, tidakkah kau dengar suara parauku?
Ngomong-ngomong, nenek tiriku sudah lama mati…
cingcong-cingcong