Monthly Archive for October, 2008

Surat Cinta

Kalaupun aku harus mengubah cita-cita, membelokkan peredaran benda angkasa, menggeser lembah, menguras dua samudera, ataukah membunuh nenek tiriku sendiri, akan aku lakukan demi mendapat cintamu.

Bila berputar-putar di permainan hati membuatmu senang, beralih dari satu pria ke pria lain mejadikanmu puas, dan melampiaskan kekesalan kepada banyak lelaki membuatmu bangga, aku rela. Asal engkau jadikan aku perhentianmu terakhir.

Kalau saja malam ini ada jutaan bintang yang jatuh di langit cerah, akan aku pandang satu bintang saja. Ya, satu bintang saja. Ku tak acuhkan sisanya, demi mengucap satu pinta saja. Ya, satu pinta saja. Aku ingin habiskan waktu bersamamu, berjalan susuri pantai, sambil menghirup aroma basah sehabis hujan, dan mencoba menerka ada apa di ujung pelangi sana.

Aku tahu hatimu bagai pohon tinggi lagi besar, yang kucoba tebang dengan pisau dapur. Aku tahu engkau tak dapat tumbang, tapi aku yakin telah kutoreh sesuatu di sana. Sesuatu yang membuatmu sedikit membuka celah hati, yang saat ini belum tembus cahaya.

Andai lewat tengah malam ini Tuhan Menakdirkanku menderita amnesia, aku yakin, besok pagi aku bangun dan tetap jatuh cinta pada wanita yang sama: kamu.

Jika kau tanya mengapa aku bisa sampai separuh gila begini, kan ku jawab dengan balas bertanya, “Setiap memandangmu aku berdebar, berbicara denganmu buat lidahku kelu, dan ada perasaan tak biasa bila namamu kudengar. Hai Nona yang pandai meracik kue pastel, apa cinta itu memang perlu alasan?”

Kata orang, aku seperti nakhoda kapal pengangkut mutiara: diliputi berjuta keindahan nan memabukkan sepanjang waktu. Namun, mereka tak tahu. Aku lebih kagumi engkau: cahaya bulan purnama yang bimbing aku menuju daratan, walau aku tahu engkau jauh tak terjangkau.

Menanti membuatku sakit, memang. Menunggu juga menyiksaku, pasti. Tapi, saat kubayangkan senyuman yang kurindu, mendadak lukaku sirna, awan mendung menghilang, matahari terbit, dan hatiku berbunga, layaknya hati saudagar yang baru saja untung besar. Wahai Putri Sulung orang terpandang, tidakkah kau dengar suara parauku?

Ngomong-ngomong, nenek tiriku sudah lama mati…

Kelu

Sekadar bicara saja sulit

Gile…

Bismillah

Demi naikin berat badan, porsi makan udah kayak kuli pelabuhan. Udah gitu biaya makan sehari meningkat 100persen. Belum lagi perasaan mau muntah terus tiap minum susu. Tapi gapapa, semuanya akan terbayar pada waktunya. Oia, jangan lupa olahraga. Angkat barbel (terima kasih buat Etta atas pinjeman barbel seharga nopekgocapceng), sit up, badminton, dll. Fiuh…

Badminton

Bismillah

Still unbeatable.. :) My dream: win from Destian and Ucup, but Destian has not recovered from his pain. One more: beat Pakde Mardjo and Bang Wahab, with Rio as my partner. That’s all.

SangPrabo This Morning

Bismillah

I wake up at 5.12am, sit for 1 minute (to gather all of my souls(?)), drink a cup of water, and doing Shubuh prayer. Do my laundries, wash the dishes, and prepare for a cup of green tea in this wonderful and beloved morning. Aahh…

Dr. Oz said on Oprah’s show that saying “Hmmmm….” (by making your throat vibrated) could activated a kind of enzyme that brings us to happiness and reduces stress. So, I just sing a song, surely, My Way by Frank Sinatra, a song whose chord just I got from Pak Yos.

My plan for today: playing badminton at UGM’s valley (there is a sport center), booking a room for my friend’s father at Wisma Gadjah Mada, and of course, continue my undergraduate thesis project. Covey said “focus on your big rocks, and the smaller one can fit on your basket, don’t do otherwise”.