Bismillah
Alhamdulillah, paper selesai juga. Walau ditanggapi dengan kalimat “paper Anda amburadul..”, insya Allah maju juga ke semnas. Amin…
Bismillah
Alhamdulillah, paper selesai juga. Walau ditanggapi dengan kalimat “paper Anda amburadul..”, insya Allah maju juga ke semnas. Amin…
Bismillah
Barusan ganti proxy ke punyanya China, akhirnya stylesheetnya pake yang baru juga…. Udah bersihin Cache tetep aja gamau update (berarti emang cuminya PSN yang kagak berobah). Muncul pertanyaan: gimana ngebersihin cuminya PSN? Hehehe.. ternyata: tinggal ganti proxy, sebuah cara yg kagak terpikirkan! *ah, bodohnya saya…*
*kembali ke paper…*
Bismillah
Malam ini bulan terlihat indah sekali. Pohon meranti yang berbaris rapi di tepi jalan seakan-akan menjadi punggawa yang bersujud tatkala cahayanya menembus sela-sela dedaunan terbaur benalu. Memang terkadang sinarnya hilang ketika beradu dengan lampu bundar di sepanjang trotoar, tapi tentu kita tahu siapa yang lebih abadi, bukan?
Aku membayangkan ketika dua puluh tahun lagi, tidak…sepuluh tahun lagi, atau mungkin kurang dari itu, pemandangan seperti ini tidak akan ada lagi. Pendar bulan yang membuat Ayah Ibu betah berlama-lama di teras rumah, mungkin musnah tak mampu bersaing dengan berjuta energi lampu kota perlambang kapitalisme. Bintang-bintang yang redup malu-malu mungkin hanya bisa kita lihat di balik kaca tebal pemisah ruangan rumah dengan dunia luar, karena udara yang tak lagi bersih.
Akan jadi seperti apa dunia ketika itu? Mungkinkah antara kita dan hari akhir kini hanya tinggal dibatasi kertas origami? Sudah berapa juta manusia yang mati karena keserakahan akan bumi? Lebih penting: apakah kita termasuk ke dalam kelompok pembela kebenaran, berjuang bersama Power Rangers untuk mencipta damai? Atau justru menjadi loba dan bersekutu dengan Rita Repulsa untuk menguasai dunia?
Bahkan dalam semalam, sifat manusia dapat berubah seperti badai dan terang, sebuah peradaban hancur tiba-tiba, dan neraka kehabisan tempat untuk para penghuninya. Dan jangan dikira kita tidak mungkin menjadi salah satunya.Tinggallah surga menjadi tempat paling sepi sepanjang masa, yang isinya hanya orang-orang yang mati sebelum kita.
Cita-cita, aku bicara tentang cita-cita. Cita-cita untuk menjadi pengubah yang rusak, pendiri yang rubuh, penghilang nestapa, pendatang sejahtera, penghancur yang jahat, dan pewujud kebersahajaan hidup. Cita-cita untuk menaiki sepeda di tengah malam sehabis berjuang menuntut ilmu, tanpa masker. Cita-cita untuk menghadirkan senyum di semua bibir. Cita-cita agar tak ada lagi kepayahan.
Aku yakin, dalam setiap lelehan keringat, desah napas, dan pucatnya mata karena tak tidur, ada bagian dari cita-cita kita. Walaupun sedikit, sangat sedikit. Aku yakin, akan ada hari di mana kita tak lagi takut berjumpa matahari. Aku yakin, pasti keadaan berubah menjadi lebih baik. Selalu. Pasti begitu.
cingcong-cingcong