Today’s Log

Bismillah

Hari ini
0. Ndak ada yang datang ke lapak. Dagangan kagak laku Gan.. Ya ndak papa, besok tetep jualan lagi. Kalo kata orang di forum ponsel, pasar boleh sepi, tapi warung gak boleh tutup.
1. Rencana hari ini bikin tulisan sebiji tentang shortcode tags, tapi entah kenapa tadi gak sempet selesai.
2. Badan lelah karena nggowes 4km. Mesti ingat umur mungkin.
3. Selamat ulang taon buat il capitano, semoga tim ini menjadi jaya.
4. Mohon mangap buat semua fans yang udah pasang link di page /etc di blog ini, karena membuat masalah, terpaksa saya set jadi draft dulu..
5. Tadi sempet lihat metrotv, salah satu kabupaten di propinsi saya masuk sebagai desa tertinggal. Ah, biasa lah, pejabat kan baru mau turun 5 taon sekali, pas mau pemilu ajah Bo… Mengutip apa kata Metrotv, ‘Entah apa yang mereka dapat dari negeri ini..’
6. Si Abang jadi mengakuisisi tempat di pojokan yang dulunya dipakai jadi warung bakso. Untuk 2 tahun lagi. AlhamdulillaH. Itu kan berarti tuh tempat gak bakal dijadikan bengkel, warung makan, atau (lebih parah) disewa buat kantor pos..(Ngapain pemerintah sok2an pasang kantor di sini? Ini tuh kawasan bisnis tauk?! Kami kirim paket pakai tiki, transaksi pakai atm, dokumen bisa ngurus di BRI, terus situ mau ngapain di mari? Jualan amplop? Eh, banyak juga loh yang mempertanyakan fungsi kantor pos walau di kota besar)

(Mengaku) Freelancer

???

Emang sih, terdengar lebih keren daripada, ‘jadi bajing loncat, kerja serabutan tergantung orderan..’

*nyummon

Nasib Kerja Serabutan

Bismillah

Pagi ini disuruh bawa mobil, jadi supir. Yah, mau gimana lagi. Kadang hidup ndak sesuai dengan yang kita harapkan. Alamat gak bisa nonton Indonesia Now. Frida, maapin abang ya sayang.. Insya Allah abang nontonnye entar nyang jam 1 malem aje..

Diam Saja

Kalau rapat dengan orang2 tua… Urusan bisa panjang kalau Anda urun bicara.

Profesi Yang ‘Mengada-ada’

Waktu saya tinggal 4 jam sebelum tulisan untuk rubrik ini saya kirim ke editor via email. Namun sampai saat ini saya hanya berkutat di alinea yang sama. Buntu. Tiba-tiba saya teringat salah seorang teman yang menulis di Facebooknya tentang pelayanan salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, yang juga menyediakan layanan internet. Kita sebut saja PT Mehong bin kacrut.

Teman saya itu mengeluh karena ia tak kunjung bisa berselancar di dunia akhirat, eh maksud saya di dunia maya alias internet. Walau saya tahu ia juga bukan pribadi produktif bila berhadapan dengan internet. Namun ada yang menarik dari ceritanya. Awalnya ia dijanjikan teknisi yang akan datang langsung ke rumahnya. Setelah datang, seperti layaknya teknisi kawakan, ia mulai mengeluarkan alat-alat yang sudah biasa jadi mainan teman saya itu. Namun teman saya pikir, adalah tidak perlu lah jadi sok keren di depan pelanggan. Jadilah pada akhirnya sang teknisi sok keren tersebut berujar agar teman saya menunggu 2 hari karena ‘pusat’ belum mengaktifkan akun internet teman saya. Memahami kalau urusan bisa jadi panjang, teman saya hanya meminta nomor pelanggan serta password dari teknisi tersebut.

Apa yang jadi jawaban sang teknisi sungguh membuat heran. Katanya bila bukan ia yang mengerjakan ia tak akan dapat uang setting, serta bila salah prosedur kemungkinan garansi untuk modem yang disediakan PT Mehong tidak berlaku lagi. Teman saya sungguh keheranan campur kesal, menilai bahwa teknisi semacam ini hanya profesi yang tak perlu, karena sebenarnya yang dilakukan si teknisi dapat diberitahu saat registrasi, dan bila ada masalah customer dapat menghubungi CS via telepon. Saya yang mendengar ceritanya pun menjadi sedikit kasihan dengan Om Teknisi, sekaligus khawatir. Apakah saya juga dinilai pembaca Kompas sebagai penulis yang tidak penting? Yang hanya mengisi sekadar 3 kolom paling bawah dari sebuah surat kabar dan diterbitkan seminggu sekali?

…………………
Kilas Parodi
0. Jangan pernah menjadi sok keren. Sesuaikan apa yang Anda kerjakan dengan apa yang Anda tampilkan di depan pelanggan jasa Anda. Karena boleh jadi kesokkerenan Anda dapat dimentahkan oleh pelanggan Anda yang ternyata keren beneran.
1. Jangan resek dengan kesokkerenan orang lain. Boleh jadi itulah satu-satunya yang bisa ia banggakan dalam hidup. Hargai kesombongannya. Mengangguklah seakan-akan Anda percaya kalau ia keren beneran.
2. Bila Anda punya perusahaan besar, minimalisir bidang pekerjaan yang tidak perlu. Hal ini membuat Anda tidak mengeluarkan uang ekstra untuk pekerjaan yang sebenarnya bisa didelegasikan pada pekerja yang sudah ada.
3. Bedakan pegawai tetap asli perusahaan dengan yang kontrak. Bukan apa2, adalah lucu bila image perusahaan yang sudah dibangun susah2 ternyata ternoda oleh pegawai kontrak yang mengandalkan kesokkerenan dan ternyata tidak keren beneran.
‘Eh, elu kan bisa nampang di mari karena sok keren juga booo..’ celetuk teman saya, sinis.

-Prabowo Mulia, penulis mode dan gaya hidup